Saturday, 15 May 2010

OBSESI


Pernah punya sesuatu yang diinginkan?
Pasti. Bukan manusia kalo ngga pernah.
Sangat ingin sampe kita bicara tentang itu terus - menerus?
Pernah?
Aku pernah.
Pernah berusaha dapetin keinginan itu gimana pun caranya?
Bener-bener cita-cita atau cuma ledakan emosi sesaat sih?
Dua-duanya aku pernah.
Disadari atau tidak, umumnya setiap orang mempunyai dorongan semangat untuk berbuat, memiliki atau mencapai sesuatu. Dorongan semacam itu disebut obsesi. Pada umumnya obsesi bersifat sangat pribadi. Namun melalui ilmu kepolisian atau psikologi, masih mungkin untuk dapat mengetahui obsesi yang diduga melatar belakangi sikap seseorang.

Obsesi umumya timbul karena dirinya termotivasi oleh sesuatu hal yang memengaruhi, yaitu karena seseorang atau orang lain ataupun karena lingkungan. Bagi mereka yang datang dari keluarga atau lingkungan militer misalnya, bisa terobsesi menjadi tentara. Dari lingkungan guru, seseorang ingin menjadi guru. Dari kalangan politisi, kerabat atau generasi berikutnya ada kemungkinan juga ingin terjun di bidang politik.

Dalam keadaan normal, orang akan terobsesi untuk berbuat baik pada lingkungan yang baik pula. Demikian juga sebaliknya, bagi mereka yang berada pada lingkungan kurang baik
Pada umumnya manusia memiliki obsesi, baik anak-anak maupun orang dewasa. Anak sekolah memiliki obsesi tentang mata pelajaran yang tidak disukainya. Mahasiswa memiliki obsesi tentang ujian yang akan dihadapinya. Pembunuh memiliki obsesi tentang kejahatan yang telah dilakukannya. Sastrawan memiliki obsesi tentang keadaan masyarakat, manusia, dan lingkungannya.

Obsesi merupakan masalah kejiwaan yang begitu luas, kompleks, mengandung banyak misteri, dan hal-hal menarik sehinga selalu saja menantang manusia untuk mengadakan studi intensif terhadapnya. Luas dan kompleksitasnya tidak hanya disebabkan oleh tidak atau belum mampunya orang mengkuantifisir gejala-gejala obsesi; akan tetapi gejala-gejalanya juga bisa didekati dari bermacam-macam perspektif dan disiplin ilmu. Dokter, psikolog, pendidik, kritikus, politikus, dan lain-lain semuanya juga bisa menyajikan wawasan yang khas dan berbeda-beda mengenai obsesi.

Keberadaan dan kepentingan obsesi berbeda bagi tiap-tiap orang. Barangkali jika membicarakan obsesi orang biasa tentu kurang terlihat kepentingannya karena obsesinya lebih banyak dipengaruhi oleh kehidupan pribadinya. Tetapi jika membicrakan obsesi seperti yang dimiliki sastrawan, politikus, pemimpin masyarakat tentulah sangat besar terlihat kepentingannya. Karena obsesinya lebih banyak dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat, manusia, dan lingkungannya.

Gejala obsesi dapat dilihat dari sikap, tingkah laku, dan hasil karya seseorang. Perbedaan wadah gejala obsesi menyebabkan terjadinya perbedaan cara memahami dan menyelidikinya. Ada secara langsung menyelidiki orangnya seperti melalui wawancara dan ada pula secara tidak langsung seperti melalui penyelidikan hasil-hasil karya yang berupa film, sandiwara, karya sastra, catatan, dan sebagainya.

No comments:

Post a Comment